Mampir Ke Kawah Ijen Sebelum Menuju Kelimutu

Kabaarterkini – Sama-sama terbentuk karena aktivitas gunung api, Kawah Ijen dan Kawah Kelimutu emang keliatan mirip satu sama lain. Kemiripan ini lebih keliatan pada warna air kawah dari masing-masing gunung yaitu punya warna ijo toska. Bedanya, kalo Ijen cuma punya 1 kawah, sedangkan Kelimutu punya 3 kawah dengan warna berbeda dan salah satunya ya yang berwarna ijo toska itu.

Makannya, kemiripan warna air kawah ini bikin main ke Kawah Ijen jadi berasa kayak main ke Kelimutu. Yah, itung-itung pemanasan gitu lah buat yang baru akan main ke Kelimutu.

Sebenernya, main ke Kawah Ijen dibilang sebagai pemanasan sebelum ke Kelimutu itu bener-bener aja asalkan konteks yang diliat adalah kemiripan warna air kawah karena emang Kawah Ijen ini semacam replikanya si Kelimutu. Tapi, akan jadi gak sesuai kalo diliat dari konteks kesulitan medan trekking, karena justru Kelimutu lah yang harusnya dijadiin pemanasan sebelum trekking ke Kawah Ijen.

Bukannya lebay ya, tapi percaya deh nanjak ke Kawah Ijen itu susahnya hampir 9,36 kali lipat dari trekking di Kelimutu. Dari mulai lama waktu sampe sudut kemiringan trek yang dilaluin, Kawah Ijen ini emang waaay harder untuk ditaklukin daripada si Kelimutu.

Kalo diliat dari lamanya waktu, nanjak di Kawah Ijen ini bisa makan waktu 2 sampe 2,5 jam trekking nyiksa, di saat Kelimutu cuma butuh waktu 15-20 menit trekking santai. Hal ini bikin elo yang mau nanjak di Kawah Ijen harus rela bangun lebih awal, ya minimal jam 2 dini hari harus udah mulai trekking supaya gak ketinggalan sunrise. Sedangkan kalo elo mau ngejar sunrise di Kelimutu, jam segitu mah elo masih pules-pulesnya tidur karena idealnya di Kelimutu itu memulai trekking sekitar jam 4 subuh.

Lamanya waktu trekking di Kawah Ijen sebenernya lebih disebabin karena medan trekking yang super kejam bin ngehek. Ya bayangin aja, baru-baru mulai trekking aja elo akan langsung disuruh nanjak, tanpa dikasih jalan datar untuk pemanasan otot. Alhasil, bukan cuma otot aja yang kaget karena langsung disuruh kerja keras, tapi juga mental karena udah jiper duluan secara sudut kemiringan medan trekking yang harus dilaluin rata-rata 45 derajat.

Selama perjalanan pun jadi gak sempet haha-hihi karena yang ada elo akan sibuk ngatur napas yang naik-turun. Sukur-sukur gak kliyengan dan jatoh pingsan hehe. Dan lagi, hal ini diperparah sama waktu sunrise yang terus ngejar yang jelas jadi beban kita supaya jangan terlalu sering berhenti buat istirahat ngelurusin kaki. Pokoknya nyiksa!

Sumber dari Sini.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s