Kabaarterkini – Ban pada kendaraan bermotor, khususnya untuk kompetisi balap seperti MotoGP, dibedakan oleh beberapa aspek. Dari mulai kompon atau material pembentuknya, ataupun dari tipenya.

Berdasarkan tipenya, ban dibedakan menjadi tiga jenis: tipe basah, kering, dan menengah. Tim balap umumnya akan memilih satu dari tiga jenis ban ini, disesuaikan dengan kondisi trek. Jika lintasan kering, maka yang dipakai adalah ban kering, jika trek basah, maka yang dipakai pasti ban basah.

Tipe-tipe ban ini juga terdiri dari beberapa kompon. Ada kompon keras, sedang, dan lunak. Jadi misalnya ban tipe kering, dibedakan lagi menjadi ban kering-keras, kering-sedang, dan kering-basah. Semakin lunak, ban akan semakin ‘menggigit’, namun tentu lebih cepat aus.

Tipe yang sama juga digunakan dalam ajang balap otomotif tahunan MotoGP. Dalam balapan tahun ini, Michelin merilis tiga jenis ban yaitu power slick, power intermediate, dan power rain.

Pada ban power slick, Michelin merilis kompon lunak, sedang, dan keras. Sedangkan ban power rain dan intermediate ada dua kompon, yaitu lunak dan keras.

Beragam jenis dan kompon ban dibedakan berdasarkan garis warna yang tertera pada ban. Terdapat tiga warna untuk menandakan masing-masing jenis ban beserta komponnya, yaitu kuning abu-abu, putih, biru dan hitam (tanpa warna).

Adapun, tipe ban bisa diketahui dengan dengan cara melihat fisiknya. Pada ban kering atau slick, alurnya relatif lebih sedikit, bahkan kadang tidak ada alur kembangan sama sekali seperti pada foto di atas. Ini dapat kita lihat pada motor-motor di kompetisi MotoGP. Ban jenis ini semakin beroperasi maksimal saat temperatur tinggi.

Sementara pada ban basah atau wet, alur kembangannya lebih banyak, paling banyak dibanding tipe ban lain. Alurnya pun rata-rata sampai ke pinggir ban. Fungsinya jelas, kembangan ini digunakan untuk membuang air yang banyak dan agar semakin lancar. Efek aquaplanning pun bisa diminimalisir.

Advertisements