Hubungan baik Indonesia dengan negara- negara barat terancam, setelah diduga para pemulung besi tua di Tanah air ‘berulah’ dengan menghilangkan bangkai –bangkai kapal perang yang menjadi bagian dari sejarah Inggris, Belanda dan Amerika Serikat (AS).

Bangkai kapal perang tersebut di Laut Jawa. Hilangnya bangkai kapal itu diduga diambil oleh kelompok besar pemulung besi tua.

Dilansir Dailymail.co.uk via Detikcom, Jumat (18/11/2016), pihak Kementerian Pertahanan (Kemenhan) Inggris menduga hilangnya bangkai kapal ini dikarenakan telah diambil oleh para pemulung besi tua ilegal.

large-bangkai-kapal-di-karimun-jawa-582ee265fddd66947250c31820a84e8b

“Bangkai (kapal) itu nyaris semua dipindahkan dari dasar laut oleh pemulung besi ilegal,” demikian kecaman yang dikeluarkan oleh Kemenhan Inggris.

Bangkai kapal-kapal perang Inggris, yaitu HMS Exeter, kapal perusak HMS Encounter, dan HMS Electra, tenggelam di Laut Jawa setelah bertempur dengan pasukan Jepang pada bulan Maret 1942, pada peristiwa Perang Dunia ke II.

“Kami telah menghubungi pihak berwenang di Indonesia untuk mengekspresikan perhatian serius kami dan meminta mereka untuk menyelidiki laporan dan mengambil tindakan yang tepat untuk melindungi situs dari gangguan yang lebih jauh,” ujar juru bicara Kemenhan Inggris.

Pihak Kemenhan Inggris menambahkan penodaan terhadap bangkai kapal perang menyebabkan penderitaan dan kesedihan mendalam bagi orang-orang yang ditinggalkan dan bisa dimasukkan dalam pelanggaran hukum internasional.

Bahkan kabarnya sebuah bangkai kapal selam Amerika Serikat juga hilang karena dihancurkan oleh pemulung besi ilegal, seperti dilansir Guardian. Pemerintah Inggris mengutuk peristiwa hilangnya bangkai kapal perang itu, yang notabene merupakan bagian dari sejarah mereka. “Pemerintah Inggris mengecam gangguan tidak sah pada setiap kapal karam yang berisi sisa-sisa jasad manusia,” tegas juru bicara Kementerian Pertahanan Pemerintah Inggris.

Ratusan tentara Inggris tewas saat ketiga kapal ditenggelamkan. Dari 173 Orang yang berasal dari kapal HMS Electra, hanya 54 selamat dan delapan orang tewas ketika HMS kapal Encounter tenggelam.

Sementara itu, sebagian besar orang selamat di HMS Exeter setelah diselamatkan oleh pihak tentara Jepang.

Sementara tuduhan tak jauh beda juga dikeluarkan pihak Belanda. Keterlibatan kelompok pencuri besi tua juga disuarakan oleh pihak Belanda yang tiga bangkai kapal perangnya juga hilang di Laut Jawa.

1m2

Kabinet Belanda, dilansir NRC, menyampaikan keprihatinannya dan menyebut penjamahan atas ketiga bangkai kapal perang tersebut sebagai pelanggaran hukum internasional.

Mengenai kejadian ini, Belanda telah memberi tahu negara-negara terkait, antara lain Amerika Serikat, Inggris, Australia dan Indonesia. Selanjutnya Belanda mengupayakan investigasi atas hilangnya ketiga bangkai kapal perangnya itu.

“Kita prihatin atas apa yang terjadi, sebab ini menyangkut ‘makam perang’ yang harus dihormati. Saya mesti menunggu hasil investigasi, setelah itu Anda akan tahu lebih lanjut dari saya,” ujar Menteri Pertahanan Belanda Jeanine Antoinette Hennis-Plasschaert seperti dikutip dari RTL Late Night.

Berdadar rilis resmi Kementerian Belanda, bangkai kapal HMNLS De Ruyter dan HMNLS Java hilang keseluruhan. Bagian terbesar HMNLS Kortenaer juga dinyatakan hilang. Ketiga kapal perang itu ditemukan oleh penyelam amatir pada tahun 2002 lalu, 60 tahun setelah kapal itu tenggelam.

Kabar menghilangnya kapal Belanda ini merebak jelang kedatangan Perdana Menteri Belanda Mark Rutte, yang akan kembali melakukan kunjungan resmi ke Indonesia pekan depan, dari tanggal 21 hingga 24 November 2016. Pemerintah Indonsia sendiri merespon keras tudingan ini, dengan menyatakan sebelumnya tidak ada pakta perjanjian terkait kapal-kapal yang karam ini.

“Pemerintah Belanda tidak bisa menyalahkan pemerintah Indonesia karena mereka tidak pernah meminta kami untuk melindungi kapal-kapal mereka,” kata Bambang Budi Utomo, Kepala Pusat Arkeologi Nasional di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

“Karena tidak ada kesepakatan atau pengumuman ketika kapal-kapal itu hilang, jadi itu bukan tanggung jawab kami,” tambahnya.

Angkatan Laut Republik Indonesia menyatakan, bangkai kapal-kapal PD II milik Belanda dan Inggris memang tidak seharusnya diganggu, namun bukan tanggung jawab Indonesia untuk melindunginya.

”AL Indonesia tidak dapat memantau semua wilayah sepanjang waktu,” kata juru bicara AL RI, Gig Jonias Mozes Sipasulta, kepada kantor berita Agence France-Presse.

Advertisements